Gossip, lets kill the bad habit!
April 15, 2008 by dark-side-of-lolo
Sudah lama saya tidak suka dengan apa yang disebut gossip, bergosip dan embel-embel apapun yang menyertainya. Jangan salah, sebagai seorang perempuan yang hidup di kota besar, dimana bukan hanya wartawan yang menganggap “Bad news is good news”, saya juga pasti pernah terlibat gosip dong. Dan tidak munafik ada kalanya bergosip itu menyenangkan dan memberi banyak “pengetahuan” baru terlepas dari manfaatnya. Namun rasanya sudah lama juga sejak aku terakhir kali ikutan bergosip mengingat pengaruh yang luar biasa buruk yang diakibatkan kepada orang yang digosipin dan orang yang menggosip. Tidak berlebihan kalo saya bilang pengaruhnya luar biasa buruk karena itulah yang saya saksikan dengan mata kepala saya sendiri dan saya alami juga.
Oke, sekarang kita jadi bertanya-tanya, bagaimana membedakan gossip dengan sekedar bertukar cerita/pikiran/pandangan? Gampang saja, sebelum kita mulai berbicara tentang orang lain, coba kita tanya pada diri kita sendiri:
- Apakah niat kita untuk menceritakannya? Pengisi makan siang kita? Supaya kita dianggap paling oke dan up-date? Sekedar bercerita? Karena setahu saya kalau kita menceritakan A kepada B dan C yang tidak begitu kenal A, tidak ada niat baik di dalam itu. Dan kalau kita memang niat baik, kita pasti dengan percaya diri bercerita langsung kepada A, tentang hal yang mengganggu kita. Niat yang baik dan tulus akan selalu membawa kepada kedamaian walau harus konflik awalnya. Tidak ada gray area, Gosip itu Murni Jahat.
- Apakah cerita tersebut benar? Sudah kah kita dengar orang tersebut mengatakannya sendiri? Atau itu hanya hasil asumsi kita? Karena seringnya orang berasumsi seenak isi perut mereka. Yang paling sering saya dengar kata-kata seperti ini dari penggosip “Loh, kalo dia bilang begitukan, berarti maksudnya begini kan?”. Para penggosip itu suka sibuk menerka-nerka, membayangkan, menambahkan dan membenarkan hal-hal yang sesungguhnya tidak terjadi, dan kalaupun itu nyata terjadi mereka tetap menambahkannya dengan hal-hal lain yang lebih ”mengigit”. Menurut saya para penggosip itu seringnya delusional. Tidak ada gray area, Gosip itu Fitnah.
- Apakah menceritakan tentang orang tersebut kepada orang lain membawa kebaikan buat orang itu? Yang paling konyol adalah kalau kita mengatasnamakan “untuk jadi pelajaran hidup” sebagai alasan untuk bergosip. Atau untuk menghibur dan membenarkan diri kita sendiri kita sering bilang pada teman-teman gosip kita “Ya kan ga enak kalau orang tahu dia ternyata begitu orangnya, kita sih maunya yang baik-baik saja”, “Kita sih mau bantuin saja, dari pada orang lain yang bilangin”. Tidak ada gray area, Gosip itu Munafik.
Saya benar-benar jijik dengan gosip, berjuta kali saya bilang pada teman-teman saya jangan mau jadi bagian gosip, apa lagi di kantor dimana penyakit itu berkembang dengan subur. Saya bilang pada teman sekantor saya yang baru - satu divisi - untuk bahkan tidak menunjukkan ketertarikan pada apa yang dikatakan orang tentang orang lain. Jangan bahkan bilang “Oh ya??”, “Masa?”, “Terus, terus?” karena begitu kita menunjukkan ketertarikan dengan satu kalimat pengosip itu, dia akan melanjutkan dengan rasa antusias dan sok tahu yang amat sangat besar seolah-olah dia Tuhan yang tahu segala sesuatu.
Kantor saya yang lama adalah sebuah agensi kecil dengan karyawan yang tidak terlalu banyak dan semuanya wanita. Pimpinan saya juga seorang wanita dan dia tidak menuai terlalu banyak simpati dari karyawati-karyawatinya. Kebijakan-kebijakan yang dia terapkan sebagai pimpinan memang saya akui banyak tidak sesuai dengan aspirasi “bawahan”nya, atau pada umumnya dengan menggunakan common sense. Tapi saya tidak menutup mata bahwa sebagai pimpinan, tentunya dia juga punya kelebihan, contohnya dia memang pintar. Masuk satu hari di kantor itu, saya sudah terekpos dengan banyak sekali kalimat-kalimat yang mengerikan mengenai pimpinan saya tersebut. Setiap makan siang mereka tiada hentinya membicarakan sang pimpinan, betapa buruknya, kejinya, tidak bijaksananya, memalukannya dia. Beberapa kejadian memang benar, saya akui dia agak-agak memalukan, dan saya jadi terlibat gosip untuk pokok soal tertentu. Tapi pembicaraan yang konstan mengenai pimpinan saya itu membuat karakter teman-teman sekantor saya menjadi mengerikan semakin hari. Mereka menjadi selalu berpikiran negatif, mereka menjadi sangat tidak bahagia di kantor, tapi karena belum bisa mendapatkan pekerjaan lain mereka rela tetap bekerja disitu. Dengan gosip yang terus menerus itu rasa tidak simpati berubah menjadi rasa benci yang berlebihan dan gosip-gosip menjadi tidak relevan dengan keadaan yang sebenarnya. Sulit bagi saya untuk tetap “bersih” dari gosip karena semua orang terlibat. Lucunya, tidak ada yang berani ngomong langsung kepada pimpinan itu. Di depan dia semuanya baik dan tersenyum. Saya sekali dua kali mendiskusikan keputusan-keputusan “aneh” yang diambilnya yang berkaitan dengan pekerjaan saya dan dia ternyata tidak “sulit” orangnya. Untungnya kesempatan yang lebih baik datang sehingga saya segera keluar dari tempat itu. Beberapa karyawati di perusahaan itu akhirnya ada yang juga keluar, dan dari kantor yang satu kekantor yang lain mereka mengeluhkan hal yang sama, pimpinan mereka jahat, tidak adil dan tidak bijaksana. Padahal kalau di tilik benar-benar, pikiran negatif yang dibangun oleh gosip selama tahunan itu sudah melekat didalam benak mereka dan sulit untuk pergi.
Di kantor saya yang sekarang, yang karyawannya ratusan, tentunya lebih banyak lagi pengidap sakit gosip ini. Saya sangat mengenali beberapa orang diantaranya karena mereka sering datang “berkunjung” ke ruangan saya dan “menawarkan” berita-berita menarik. Saya sungguh tidak tertarik. Kalau mereka bersikukuh untuk bercerita saya hanya duduk manggut-manggut dan tanpa ekspresi, bahkan sesekali sambil tertawa saya melontarkan beberapa kemungkinan-kemungkinan yang berlawanan dengan arah gosip itu. Kalau dia bilang “Manager ini ada ‘main’ dengan Direktur itu tahu”, saya akan bilang “Mungkin mereka memang sudah kenal dari dulu, dan setahu saya manager itu memang ramah dan baik orangnya”, dan begitu seterusnya sampai saya tahu bahwa saya bukan orang yang terlalu menyenangkan untuk diajak gosip. Tapi malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, tetap saja saya yang kena gosip akhirnya oleh orang orang yang itu-itu juga. Seperti biasa saya hadapi dengan lenggang kangkung dan tidak perduli, yang penting performance kerja saya baik. Kalau kalian pikir dengan bersikap baik kepada para penggosip akan menghindarkan kalian dari objek gosip, kalian salah besar! Saya membuktikannya berkali-kali dalam hidup saya. Karakter buruk sulit untuk hilang.
Sayang sekali, orang yang bergosip itu tidak tahu kalau orang bisa sakit hati kalau dijadikan bahan gosip. Tidak tahu sampai mereka sendiri yang dijadikan bahan, lalu mereka seperti orang kebakaran jenggot berusaha untuk meluruskan informasi yang salah tentang mereka, dengan cara baik-baik atau dengan cara lain, yaitu dengan menggosip orang yang dia curigai menggosipi dia. Penggosip itu tidak menyadari bahwa semakin mereka suka menggosipi orang lain, semakin insecure mereka merasa. Pikiran negatif bahwa orang lain akan memperlakukan mereka sama, termasuk bergosip tentang mereka akan selalu menghantui. Benar-benar lingkaran setan yang mengerikan. Hal ini mengubah banyak karakter, benar kata Alkitab “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”. Begitulah gula-gula, sekalipun dia berbahaya untuk gigi dan kesehatan, siapa yang tidak tertarik?
Apakah kalian pernah digosipin? Kalian pasti tahu rasanya, maka ingatkanlah teman kalian.
Apakah kalian tukang gosip? Kenapa tidak berhenti saja sebelum kalian jadi korban, sungguh dari sekarang saya bilangin, tidak enak rasanya.
Setuju Lo!
ehehehehe…. thanks Mbar… maklum ketemu ibu2 gosip kantor memang menyebalkan…